Rabu, 13 November 2019


Ritual nyeput dengan naskah "PUSPEKERME"



ritual nyeput adalah tata cara pada proses mengambil lembar naskah pada naskah kuno. Ritual nyeput ini dilakukan oleh seseorang yang bertujuan khusus, karna menurut orang tua dulu nyeput ini tabu untuk dilakukan.
Sebelum melakukan ritual nyeput ini orang itu harus menyiapkan niat yang baik, karna konon ceritanya nyeput ini adalah ramalan masa depan. Judul naskah yang saya pilih sebagai tugas nyeput ini adalah puspakarma.
 Di tempat saya nyeput ini, orangnya masih aktif dan bahkan selalu di cari oleh orang-orang sasak tulen untuk menjadi pengisi acara adat sasak yaitu sorong serah. Sorong serah ini dilakukan sebelum pengatin melakukan ritual nyongkolan ke rumah mempelai perempuan.


             Nama : Lalu Sopi
              Umur : 47 Tahun
               Desa  : Labulie
               Dusun : Sulin
               Kecamatan : Jonggat, Lombok Tengah
                Provinsi : Nusa Tenggara Barat
Sampai sekarang beliau masih bergelut naskah kuno, beliau juga sering mengikuti perlombaan, seminar dan kunjungan-kunjungan ke tempat-tempat yang berkaitan dengan naskah kuno.

Umur naskah ini sekitar 200 tahunan, alat yang digunakan untuk menulis naskah ini disebut pengerupak, tinta dalam naskah ini dari kemiri.
Judul naskah yang saya pilih sebagai tugas nyeput ini adalah puspakarma.
 Setelah naskah dibuka, kemudian saya mengambil satu lembar naskah yang berada di tengah.
Setelah Mamiq membacakannya dalam bahasa Kawi kemudian Mamiq menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia.
Yang saya analisis dari naskah ini ialah tembang dangdang manis, bisa dimanakan juga tembang dalem, yang biasa digunakan untuk menghibur raja saat ada selisih dengan permaisuri. Saat semua prajurit tertidur raja pergi seorang diri untu berperang dengan di temani kuda kepercayaannya, saat kuda itu berjalan tujuannya hanya satu yaitu naik keatas bukit, tapi pikiran sang raja saat ini sangat gelisah hingga sang raja tidak sadar sudah berada di pertengahan bukit. Dengan hati yang terombang-ambing sang raja bersama kudanya berada di tanah yang lapang, kemudian sang raja melepas kegelisahannya di pohon dengan mata tertutup, tiba-tiba datang seekor kijang dan pada saat itu hati sang raja berubah menjadi gembira.

Jadi kesimpulan dari naskah hasil njemputan saya adalah jika dalam dunia nyata maksud dari cerita ini adalah ketika seseorang merasa gelisah dan sudah mencari ke banyak tempat di mana ia bisa melepaskan kegelisahannya, tiba-tiba bertemu dengan seeekor kijang, ibarat bertemu dengan bidadari yang sangat cantik. Jadi keberuntungan akan datang setelah banyak kegelisahan.
Sekian. Terima kasih.

4 komentar:

  1. Sebenarnya dari cerita di atas itu agak kurang percya ea tapi mungkin karena beda keyakinan kali ea tapi it's okay.
    Tapi kalok menurut saya, jika kita mengalami kegelisahan atau hati kita tidak tenang. Tanpa kita harus berkelana kebanyak tempat untuk menghilngkn kegelisahan hati cukup kita mnghadap dan bertapakkur kepda sang maha pencipta alam semesta ini.

    BalasHapus
  2. Ternyata bukan hanya mama Loren yang bisa meramal 😂, Pengetahuan baru dan sangat bermanfaat 👍lanjutkan anak muda

    BalasHapus