Minggu, 31 Oktober 2021

tanpa judul

Terima kasih Tuhan, untuk hari-hari yang begitu berat. Terima kasih sudah memberikan saya hati yang begitu luar biasa, hati yang selalu menerima perlakuan baik maupun buruk. Maaf mungkin selama ini kita berjarak, maaf atas semua khilaf yang sengaja maupun tidak sengaja saya lakukan. Tapi bisakah Tuhan, sehari saja saya ingin menjadi orang yang kuat, saya ingin bersikap sebagaimana orang-orang memperlakukan saya. Ada banyak rasa sakit dalam hati ini yang tidak bisa saya keluarkan, ada banyak goresan yang saat saya menangis rasanya perih banget. Tuhan, sekali lagi saya minta jadikan aku seseorang yang biasa saja dalam cinta, tapi mememiliki cinta yang tulus.

Rabu, 13 November 2019


Ritual nyeput dengan naskah "PUSPEKERME"



ritual nyeput adalah tata cara pada proses mengambil lembar naskah pada naskah kuno. Ritual nyeput ini dilakukan oleh seseorang yang bertujuan khusus, karna menurut orang tua dulu nyeput ini tabu untuk dilakukan.
Sebelum melakukan ritual nyeput ini orang itu harus menyiapkan niat yang baik, karna konon ceritanya nyeput ini adalah ramalan masa depan. Judul naskah yang saya pilih sebagai tugas nyeput ini adalah puspakarma.
 Di tempat saya nyeput ini, orangnya masih aktif dan bahkan selalu di cari oleh orang-orang sasak tulen untuk menjadi pengisi acara adat sasak yaitu sorong serah. Sorong serah ini dilakukan sebelum pengatin melakukan ritual nyongkolan ke rumah mempelai perempuan.


             Nama : Lalu Sopi
              Umur : 47 Tahun
               Desa  : Labulie
               Dusun : Sulin
               Kecamatan : Jonggat, Lombok Tengah
                Provinsi : Nusa Tenggara Barat
Sampai sekarang beliau masih bergelut naskah kuno, beliau juga sering mengikuti perlombaan, seminar dan kunjungan-kunjungan ke tempat-tempat yang berkaitan dengan naskah kuno.

Umur naskah ini sekitar 200 tahunan, alat yang digunakan untuk menulis naskah ini disebut pengerupak, tinta dalam naskah ini dari kemiri.
Judul naskah yang saya pilih sebagai tugas nyeput ini adalah puspakarma.
 Setelah naskah dibuka, kemudian saya mengambil satu lembar naskah yang berada di tengah.
Setelah Mamiq membacakannya dalam bahasa Kawi kemudian Mamiq menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia.
Yang saya analisis dari naskah ini ialah tembang dangdang manis, bisa dimanakan juga tembang dalem, yang biasa digunakan untuk menghibur raja saat ada selisih dengan permaisuri. Saat semua prajurit tertidur raja pergi seorang diri untu berperang dengan di temani kuda kepercayaannya, saat kuda itu berjalan tujuannya hanya satu yaitu naik keatas bukit, tapi pikiran sang raja saat ini sangat gelisah hingga sang raja tidak sadar sudah berada di pertengahan bukit. Dengan hati yang terombang-ambing sang raja bersama kudanya berada di tanah yang lapang, kemudian sang raja melepas kegelisahannya di pohon dengan mata tertutup, tiba-tiba datang seekor kijang dan pada saat itu hati sang raja berubah menjadi gembira.

Jadi kesimpulan dari naskah hasil njemputan saya adalah jika dalam dunia nyata maksud dari cerita ini adalah ketika seseorang merasa gelisah dan sudah mencari ke banyak tempat di mana ia bisa melepaskan kegelisahannya, tiba-tiba bertemu dengan seeekor kijang, ibarat bertemu dengan bidadari yang sangat cantik. Jadi keberuntungan akan datang setelah banyak kegelisahan.
Sekian. Terima kasih.

Rabu, 23 Oktober 2019


    Assalamualaikum warohmatullahiwabarokatuh.
 Saya Sri Handayani, mahasiswi semester V . Saya melakukan penelitian di Dusun Batu Rimpang, Desa Dane Rase, Kecamatan Keruak, Kabupaten Lombok Timur pada 19 Oktober 2019, orang yang saya tuju adalah paman dari teman saya. Di sana saya menemukan naskah kuno yang konon ceritan memiliki manfaat agar terhindar dari marabahaya.
    Naskah kuno tersebut  berumur 100 tahun lebih penulisnya adalah Tuan Guru Haji Mutawwalli Yahya Al Kalimi. Pemilik naskah ini Kakek buyut dari teman saya. Beliau telah meninggal dunia 9 tahun yang lalu saat dia masih duduk di bangku Sekolah Dasar.  Ada satu orang cucu kepercayaan yang beliau amanahkan untuk menyimpan beberapa benda pudaka beliau termasuk ada satu naskah yang bisa dibilang diwariskan kepada cucunya itu. Hamdan nama orang yang diwariskan pusaka-pusaka, naskah, bahkan doa-doa yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari untuk anak cucunya.

     Saat saya bertemu dengan bapak  Hamdan, beliau menceritakan asal usul beliau mendapatkan naskah itu, beliau juga  memperlihatkan naskah itu hanya dalam bentuk tulisan pada kain saja. Dengan inisiatif sendiri beliau menulis kembali naskah itu pada kain warna hijau, beliau tidak bisa membaca isi dari naskha tersebut, tetapi masih ingat jelas apa yang di katakan oleh kakeknya sebelum wafat, bahwa naskah itu agar terhindar dari musibah. Naskah tersebut dinamai "Penangkal Balak". Beliau diberi amanat untuk menjaga naskah itu sebagai bukti bahwa naskah itu sebagai salah satu peninggalan yang bermanfaat untuk banyak orang.

     Dari sekian banyak barang yang ditinggalkan sang kakek untuknya, beliau hanya memperlihatkan naskah itu saja, karna beliau menganggap bahwa barang-barang peninggalan kakenya itu hanya naskah kuno itu saja yang ingin ia ceritakan kepada orang lain, sedangkan selebihnya beliau menyimpan sebagai rahasia antara dirinya dan almarhum kakeknya.